Bazar Takjil Ramadhan di Masjid Baitul Ma’mur, Cara Pemkab Anambas Rawat Harmoni dan UMKM Lokal

Editor: Latif Sabrian

JALUR NEWS, Anambas – Pelataran Masjid Baitul Ma’mur dipadati warga pada Sabtu sore (21/02/2026). Bazar takjil yang digelar di momen Ramadan dan bertepatan dengan Imlek ini bukan sekadar tempat berburu menu berbuka, tetapi ruang nyata merawat kebersamaan dan menggerakkan ekonomi warga.

Di banyak daerah, kegiatan keagamaan dan penguatan ekonomi lokal berjalan sendiri-sendiri. Pelaku UMKM butuh panggung. Masyarakat butuh ruang temu yang aman dan inklusif. Momentum hari besar sering kali belum dikelola sebagai jembatan harmoni.

Kehadiran Bupati Kepulauan Anambas Aneng bersama Ketua TP-PKK Sinta Aneng memperkuat pesan bahwa pemerintah daerah hadir bukan hanya seremonial, tetapi mendorong ekosistem kebersamaan.

Sejak sore, warga berbondong-bondong mendatangi stan. Aroma kolak, gorengan hangat, hingga minuman segar memenuhi udara. Di tengah keramaian itu, Bupati menyapa pedagang dan pembeli satu per satu, memastikan kegiatan berjalan tertib dan kondusif.

Momentum semakin hangat ketika, bertepatan dengan perayaan Imlek, Aneng membagikan angpau kepada anak-anak yang hadir. Gestur simbolik ini menjadi pesan kuat bahwa Ramadan dan Imlek bisa berdampingan dalam suasana saling menghormati.

Sekretaris Daerah Sahtiar, S.H., M.M. serta sejumlah Kepala OPD turut hadir, menambah legitimasi bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen bersama, bukan agenda sporadis.

Bupati Aneng saat menyapa salah satu pengunjung Bazar di Masjid Baitul Ma’mur.

Dampak Nyata: Lebih dari Sekadar Transaksi

Bazar ini memberi setidaknya tiga manfaat konkret:

  1. Penguatan UMKM lokal – Pedagang mendapat akses pasar langsung dengan lonjakan pengunjung.
  2. Ruang interaksi sosial – Warga lintas latar belakang bertemu dalam suasana santai dan setara.
  3. Simbol toleransi aktif – Ramadan dan Imlek dirayakan dalam satu ruang publik tanpa sekat.

“Dengan kebersamaan kita bisa saling mengisi satu sama lain, jelas akan menambah keakraban,” ujar Aneng di sela kegiatan.

Model bazar kolaboratif ini bisa menjadi pola berkelanjutan dengan beberapa langkah:

  • Penjadwalan rutin berbasis kalender hari besar keagamaan dan budaya.
  • Pelibatan lebih banyak UMKM binaan desa dan kecamatan.
  • Penguatan manajemen keamanan dan kebersihan agar tetap nyaman.
  • Dokumentasi dan promosi digital untuk memperluas dampak ekonomi.

Bazar di pelataran Masjid Baitul Ma’mur sore itu menunjukkan bahwa harmoni tidak lahir dari slogan, melainkan dari ruang-ruang perjumpaan yang dikelola dengan niat baik dan dukungan kebijakan.

Di tengah tantangan sosial dan ekonomi, Anambas memberi contoh sederhana: mempertemukan warga, menggerakkan usaha kecil, dan merawat toleransi dalam satu panggung yang sama.

Berita Terkait