JALUR NEWS, Anambas – Insiden keracunan massal yang menimpa ratusan pelajar di Kecamatan Siantan Tengah mulai memicu tuntutan dari para orang tua korban. Mereka mendesak adanya kompensasi atas kerugian materiil akibat terhentinya aktivitas pekerjaan dan biaya transportasi darurat ke fasilitas kesehatan. Menanggapi desakan tersebut Kepala Dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG) Siantan Tengah Jaya Saputra akhirnya angkat bicara pada Kamis (16/4/2026) pagi.
Jaya secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh warga dan keluarga korban yang terdampak musibah ini. Ia mengaku telah turun langsung ke puskesmas maupun rumah sakit pada malam kejadian untuk memantau kondisi para siswa. Terkait tuntutan kompensasi kerugian dari orang tua ia mengaku belum menyiapkan skema ganti rugi secara finansial. Ia berencana melakukan kunjungan dari rumah ke rumah untuk menyampaikan permohonan maaf secara langsung sebagai bentuk tanggung jawab moral pribadinya.
Tanggung jawab pembiayaan medis para korban rupanya ditangani oleh pihak lain. Jaya menjelaskan bahwa urusan administrasi dan biaya pengobatan di fasilitas kesehatan sepenuhnya menjadi porsi pihak mitra pengelola MBG. Ia menyebut nama Siti Bayu sebagai perwakilan mitra yang saat ini sedang mengurus penyelesaian biaya perawatan para korban di RSUD Palmatak maupun puskesmas setempat.
Luruskan Disinformasi Operasional Dapur
Dalam kesempatan wawancara tersebut Jaya juga meluruskan simpang siur informasi mengenai durasi operasional Dapur MBG yang dipimpinnya. Ia membantah keras kabar yang menyebutkan bahwa dapur tersebut baru berdiri selama tiga hari. Dapur MBG yang berpusat di Desa Air Asuk tersebut sejatinya sudah beroperasi lebih dari satu tahun. Hitungan tiga hari itu murni merujuk pada masa awal distribusi makanan ke wilayah Air Nanga dan Teluk Sunting setelah sebelumnya sempat tertunda akibat kendala teknis di lapangan.
Fasilitas Dapur MBG Air Asuk diklaim sudah menerapkan Standar Operasional Prosedur arahan Dinas Kesehatan. Pengawasan operasional sehari-hari melibatkan tenaga ahli gizi, akuntan, hingga asisten lapangan yang bertugas memastikan kelengkapan alat pelindung diri bagi para pekerja. Kendati demikian Jaya mengakui dirinya tidak selalu berada di lokasi dapur untuk memantau secara langsung dan kerap mendelegasikan pengawasan kepada asisten lapangan.
Mengingat skala insiden yang sangat masif ini Jaya menegaskan kesiapan mentalnya menghadapi tindak lanjut dari legislatif. Ia menyatakan akan bersikap kooperatif apabila sewaktu-waktu dipanggil oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kepulauan Anambas dalam Rapat Dengar Pendapat guna mempertanggungjawabkan kejadian tersebut secara kelembagaan.



