JALUR NEWS, Anambas – Puluhan pelajar dari tiga jenjang pendidikan di Desa Teluk Siantan, Kecamatan Siantan Tengah, Kabupaten Kepulauan Anambas, diduga mengalami keracunan massal setelah mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan pada hari ini,Rabu, 15 April 2026, Siang. Korban mencakup siswa TK/PAUD, SD, hingga SMP, dengan gejala dominan berupa sakit perut, mual, dan muntah-muntah.
Kepala Desa Teluk Siantan, Ismaya Lokadi, membenarkan insiden tersebut saat diwawancarai. Ia menyebut siswa SMP menjadi kelompok terdampak terbesar.
“Yang terbanyak itu anak SMP, jumlahnya puluhan anak yang terpapar. Selain itu, yang dari TK/PAUD ada sekitar 5 anak, dan SD sekitar 4 anak,” ujar Ismaya.
Ismaya menegaskan bahwa kesamaan sumber makanan menjadi dasar dugaan kuat penyebab keracunan. Seluruh korban dari ketiga jenjang sekolah tersebut tercatat menerima pembagian MBG pada hari yang sama, tanpa ada kesamaan konsumsi lain yang teridentifikasi.
“Dapat dipastikan ini dugaan keracunan MBG, karena anak TK, SD, dan SMP semuanya mendapatkan pembagian MBG hari ini. Alhamdulillah tidak ada penyebab lain, karena memang tidak ada kesamaan konsumsi lain selain makanan tersebut,” tegasnya.
Ambulans Bergerak, 11 Tempat Tidur UGD Disiagakan
Respons penanganan darurat langsung dijalankan begitu laporan korban masuk. Pihak desa bersama tenaga medis mengerahkan ambulans untuk menjemput siswa dengan gejala berat, sementara siswa dengan keluhan ringan ditangani di rumah masing-masing.
Ismaya mengungkapkan bahwa persiapan di fasilitas kesehatan terdekat telah dilakukan secara khusus untuk menampung lonjakan pasien dari insiden ini.
“Saat ini ambulans sedang dalam perjalanan menjemput anak SMP yang keracunan. Saya juga sudah mengarahkan persiapan di UGD dengan menyiapkan 11 tempat tidur, lengkap dengan oksigen dan tiang infus sebagai tindakan penanganan sementara,” papar Ismaya.
Hingga berita ini diturunkan pada Rabu sore, 15 April 2026, tim medis Puskesmas Siantan Tengah masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan secara klinis penyebab keracunan. Pihak desa menyatakan tetap bersiaga memantau perkembangan kondisi seluruh korban.(Ls)



